Tema: Mengenal Sang Pencipta
Oleh Ustadz Abu Umair

27 Februari 2017

Bismillah

Sudahkah kita betul-betul mengenal Sang Pencipta kita?

Jika kita membahas mengenai Sang Pencipta, hal tersebut tidak terlepas dari istilah tauhid rububiyah dan uluhiyah. Kedua tauhid ini sangat berkaitan satu sama lain, di mana tauhid rububiyah merupakan tauhid yang mengharuskan untuk uluhiyah atau beribadah.

Di dunia ini dikenal dengan sebutan khalik dan makhluk, di mana khalik adalah Sang Pencipta, yaitu Allah SWT, dan makhluk adalah selain Allah SWT. Sesama makhluk tidak boleh saling membeda-bedakan Semua adalah ciptaan Allah, yang membedakan adalah bagaimana cara suatu makhluk mengenal keesaan Allah. Dalam mengenal keesaan Allah, kita harus meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya zat yang disembah.

Tauhid merupakan pondasi pokok bagi kaum muslimin. Seperti yang kita ketahui, tujuan Nabi dan Rasul diutus di bumi adalah untuk menyebarkan tauhid dan beribadah hanya kepada Allah SWT. Bahkan dalam Al-Qur’an terkandung ilmu pokok yaitu tauhid. Sehingga, untuk mengenal Sang Pencipta kita harus mengenal tauhid.

Tauhid rububiyah (mengatur), yaitu mengesakan Allah, mengimani bahwa Allah yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu di dunia ini. Ironisnya, salah satu kondisi umat muslim saat ini masih meminta pertolongan kepada selain Allah. Contohnya sebagian dari mereka tetap beribadah kepada Allah tetapi meminta pertolongan kepada dukun, dsb.

Tauhid uluhiyah (al-ibadah), merupakan pembeda antara muslim dan kafir. Sebaik-baiknya orang kafir, bila mereka tidak mengucapkan tauhid, maka mereka belum dikatakan sebagai muslim. Mengingat visi Nabi SAW adalah mengajak seluruh manusia mengikrarkan syahadat, kaum muslim diwajibkan untuk berdakwah, mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah SWT.

Perbedaan penyembahan antara Yahudi, Nasrani, dan Islam adalah trinitasnya. Nasrani menyebut Nabi Isa, Yahudi menganggap Huzair sebagai anak Tuhan yang menjadi perantara Tuhan Allah mereka. Sementara Islam, Allah SWT tidak memiliki perantara, seperti yang tercantum dalam QS Al-Ikhlas ayat 4-5

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ ﴿٤
3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia

Namun, ada sebagian muslim menggunakan perantara seperti wasilah para wali/orang sholeh yang sudah meninggal untuk mengirim hajat dan meminta pertolongan dari Allah. Padahal hanya Allah lah tempat kita meminta.

Mengenal Allah merupakan nikmat yang luar biasa dan mahal. Kita sebagai umat muslim tidak boleh menyia-yiakan nikmat itu. Kita harus senantiasa meningkatkan iman, taqwa serta ibadah kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *