“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam) tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS al-Qashash: 56).

Hidayah (taufik), adalah karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapa yang pernah merasakan keindahannya barangkali tak ingin berpisah dengannya. Lalu, siapakah yang tak ingin hidayah mengetuk hati orang yang dicintai?

Sebuah kisah dari ibunda Saad bin Abi Waqqash. Mengetahui anaknya telah memeluk Islam, sang ibu rela mogok makan dan minum karena tidak ridho dengan keputusan Saad. Ia hanya akan berhenti melakukan hal tersebut jika Saad mau kembali pada agama nenek moyangnya. Setelah beberapa lama, kondisi ibu Saad semakin menurun. Keluarganya pun memanggil Saad dan memperlihatkan keadaan ibunya.

Saad menyaksikan kondisi ibunya yang begitu menderita. Namun keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya berada di atas segalanya. Ia berkata, “Ibu… demi Allah, seandainya ibu mempunyai 100 nyawa. Lalu satu per satu nyawa itu binasa. Aku tidak akan meninggalkan agama ini sedikit pun. Makanlah wahai ibu.. jika ibu menginginkannya. Jika tidak, itu juga pilihan ibu”.
Ibunya pun menghentikan mogok makan dan minum. Ia sadar, kecintaan anaknya terhadap agamanya tidak akan berubah dengan aksi mogok yang ia lakukan. Berkaitan dengan persitiwa ini, Allah pun menurunkan sebuah ayat yang membenarkan sikap Saad bin Abi Waqqash.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS: Luqman | Ayat: 15).

Dalam memberikan nasihat, sebaiknya kita memperhatikan adab kita, sehingga nasihat tersebut mudah diterima. Adab-adab tersebut di antaranya adalah:

1. Mengharapkan ridho Allah Ta’ala
Hanya dengan mengharap ridho-Nya lah seseorang berhak atas pahala dan ganjaran dari Allah Ta’ala di samping berhak untuk diterima nasehatnya.

2. Tidak dalam rangka mempermalukan orang yang dinasihati

3. Menasihati secara rahasia
Al Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Apabila para salaf hendak memberikan nasihat kepada seseorang, maka mereka menasehatinya secara rahasia… Barangsiapa yang menasihati saudaranya berduaan saja maka itulah nasihat. Dan barangsiapa yang menasihatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.” (Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, halaman 77)

4. Menasihati dengan lembut, sopan, dan penuh kasih
“Setiap sikap kelembutan yang ada pada sesuatu, pasti akan menghiasinya. Dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya. (HR. Muslim)

5. Tidak memaksakan kehendak
Dalam perkara agama saja Allah tidak memberikan paksaan, apalagi dalam melakukan kebaikan yang lain.

6. Mencari waktu yang tepat
Tidak setiap saat orang yang hendak dinasehati itu siap untuk menerima petuah. Adakalanya jiwanya sedang gundah, marah, sedih, atau hal lain yang membuatnya menolak nasehat tersebut.

Adapun jika seseorang belum mampu menasihati dengan baik, maka lebih baik diam. Hal itu akan menjaga lidah dari perkataan yang akan memperburuk keadaan.
Wallahu’alam bi showab.

Sumber:

Menasehati Tanpa Melukai

Saad bin Abi Waqqash Pemilik Doa Mustajab

————————–
Ikuti kami juga di:
Instagram: kmt_ugm
Facebook: Keluarga Muslim Teknik UGM
Web: kmt.ft.ugm.ac.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *